Hilangnya Suara Alu dan Lesung

Illustrasi wanita sedang menumbuk padi 1851 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Berapa banyak lagi tradisi yang harus hilang digilas oleh kemajuan teknologi? Kemungkinan akan semakin banyak dan banyak lagi tradisi masyarakat desa yang dilakukan sebagai local genius mereka hilang tak berbekas tanpa jejak. Tradisi masyarakat desa diciptakan bukan sekedar sebagai aktifitas semata-mata tetapi memiliki nilai sosial bagi masyarakat pendukungnya. Dengan tradisi inilah interaksi sosial pedesaan berjalan secara harmonis.

Wanita-wanita sedang menumbuk padi di desa 1920 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Teknologi pertanian memungkinkan hilangnya tradisi menumbuk padi yang menggunakan alu dan lesung dari kehidupan masyarakat pedesaan. Sejarah dan mitologi mencatat bagaimana alu dan lesung menyelamatkan Roro Joggrang dari hasrat Bandung Bondowoso yang akan meminangnya sebagai istri. Ketika Rara Jonggrang mendengar kabar bahwa seribu candi sudah hampir rampung, sang putri berusaha menggagalkan usaha Bandung Bondowoso. Ia membangunkan dayang-dayang istana dan perempuan-perempuan desa untuk mulai menumbuk padi. Ia kemudian memerintahkan agar membakar jerami di sisi timur. Maka langit terlihat seperti telah pagi hari, ayam-ayam jantan berkokok akibat alunan suara tumbukan padi dan cahaya merah hasil pembakaran jerami. Dengan peristiwa ini maka usaha Bandung Bondowoso gagal untuk memperistri Rara Joggrang.

Alunan suara alu dan lesung juga membangunkan ayam-ayam yang sedang tertidur hingga berkokok menandakan waktu telah pagi hari dan dijadikan patokan masyarakat untuk beraktifitas. Beberapa foto jaman kolonial menunjukkan bagaimana masyarakat desa, terutama perempuan sedang melakukan aktifitas menumbuk padi. Kegiatan ini dilakukan baik secara individu maupun berkelompok dan kebanyakan masyarakat melakukannya secara berkelompok diikuti oleh berbagai percakapan-percakapan sehari-hari.

Wanita-wanita di Jawa sedang menumbuk padi 1915 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Sekarang kita hanya bisa melihat aktifitas masyarakat menumbuk padi di sebagian kecil desa dengan wajah-wajah yang muram dan juga msaih bisa kita lihat di desa-desa wisata bukan sebagai aktifitas sosial masyarakat tetapi sebagai objek tontonan. Kondisi ini menyedihkan ataukah memang harus terjadi???..

——————————————————-0000000000000000000000000000000———————————————————

Iklan

8 comments on “Hilangnya Suara Alu dan Lesung

    • Ya memang harus diakui mas, hilangnya tradisi lama dan munculnya tradisi baru tetapi sangat disayangkan juga bahwa nilai-nilai sosial kebersamaan ikut hilang. Masyarakat semakin individualis sehingga memunculkan konflik karena saluran komunikasi yang macet…menurut saya ini yang disayangkan, karena menumbuk padi sejatinya menumbuhkan ikatan sosial masyarakat desa.

      • Kau benar. Ada semangat gotong-royong yang hilang digantikan oleh deru mesin-mesin teknologi. Sesuatu yang mungkin kelak akan diratapi oleh kita yang pergi menjenguk masa lalu di museum-museum 🙂

  1. Ping-balik: Catatan Tentang Sebuah Blog Sejarah « Lapak Aksara

  2. Ping-balik: Fun Farming

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s