Hari Kartini dan Karnaval Kebaya

Wanita pada Masa Kolonial dengan Kebaya 1900 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Ada fenomena menarik setiap tahun bila kita merayakan Hari Kartini, pasti dimana-mana baik dilingkungan lembaga pemerintah hingga lembaga pendidikan, kita akan menyaksikan para wanita mengenakan pakaian Kebaya sebagai manifestasi perayaan Hari Kartini tersebut. Hal ini bisa dianggap bahwa memaknai Hari Kartini dapat dilakukan melalui penggunaan identitas yang dipakai oleh sang tokoh sehingga tidak begitu penting lagi untuk mengkaji bahwa perjuangan Kartini harus diungkap lebih luas karena dalam keterkungkungan budaya feodal dan mulai munculnya sebuah gerakan emansipasi melalui pendidikan yang dapat mensejajarkan diri dengan bangsa penjajah Belanda, Kartini tetap mengikuti sebuah kebudayaan feodal dalam bentuk pemakaian baju Kebaya dengan gaya dan motif yang telah digariskan oleh sebuah kekuasaan feodal. Hanya melalui tulisan-tulisannya Kartini berkeluh-kesah tentang keterkungkungannya terhadap budaya feodal itu sendiri.

Fenomena yang menarik ini mengingatkan bahwa pakaian sebagai fashion merupakan kulit sosial dan budaya dan dapat dipandang sebagai perluasan badan tetapi sesungguhnya tak menjadi bagian yang tidak hanya mengaitkan badan dengan lingkungan sosial tetapi juga memisahkan kedua hal itu. John Pamberton juga memberikan ulasan yang menarik mengenai fashion yang berkembang dimana fashion telah menjadi alat kekuasaan untuk membagi susunan masyarakat sesuai dengan tingkatan kepriyayian maupun asal-usul ras. Fashion juga digunakan secara simbolik oleh penguasa lokal sebagai simbol budaya perlawanan terhadap kekuasaan yang lebih tinggi.

Apa yang dikenakan oleh Kartini pada masa lalu dimaknai pada saat ini sebagai bagian dari sebuah perjuangan itu sendiri. Memang fashion wanita pada masa lalu belum bisa menjadikan dirinya sebagai simbol persamaan derajat bahkan simbol perlawanan terhadap kekuasaan feodal maupun kekuasaan penjajah Belanda. Tanpa bermaksud merendahkan peran fashion wanita, fashion yang dikenakan oleh pria mengalami transformasi dari pakaian tradisional ke pakaian Eropa yang dianggap mampu mensejajarkan diri bahkan sebagai wujud emansipasi yang lebih luas dari perjuangan nasional.

Pemakaian kebaya pada peringatan Hari Kartini sangat disayangkan tidak menunjukkan sebuah transformasi baru dari apa yang menjadi perjuangan Kartini itu sendiri. Kita lebih silau dengan simbol-simbol yang nampak jelas mata tanpa bisa memberi makna terhadap simbol-simbol tersebut menjadi sebuah bentuk perjuangan terhadap kehidupan yang berkeadilan bagi wanita. Akhirnya kita hanya menjadikan hari Kartini sebagai hari karnaval kebaya sedangkan secara kasat mata banyak ketidakadilan yang menimpa wanita dalam berbagai bentuk.

Inikah yang akan terus terjadi sepanjang tahun bahkan hingga akhir hayat kita????

Solo, 21 April 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s